Rabu, 06 Juni 2012

ILIR-ILIR SUNAN KALIDJAGA


“ILIR-ILIR” SUNAN KALIDJAGA:

Sumber Pembentukan Pekerti Bangsa
Drs. Puji Santosa, M.Hum.Peneliti Utama Bidang Sastra Pusat Pengembangandan Pelindungan BadanPengembangan dan Pembinaan BahasaKementerianPendidikan Nasional

Sunan Kali Jogo
ILIR-ILIR
Ilir-ilir Ilir-ilirtandure wis sumilirtak ijo royo-royotak sengguh penganten anyar.
Cah angon cah angonpenekna blimbing kuwilunyu-lunyu penekenkanggo masuh dodotira.
Dodotira dodotirakumitir bedhah pinggiredondomana, jlumatanakanggo seba mengko sore.
Mumpung gedhe rembulane mumpung jembar kalanganeya suraka..... surak.... hore....ya suraka..... surak.... hore....

Iir ilir lirilir “Bangun, bangun, bangunlah, bangun” atau juga dapat diterjemahkan menjadi “Sadar, sadar, sadarlah, sadar”. Kanjeng SunanKalidjaga mengajak kita agar bangun (sadar) dari kelelapan tidur panjang,segeralah sadar akan tugas dan kewajiban kita hidup di dunia ini, tidak hanyatidur saja. Tidur dalam arti hanya mengurus duniawi saja. Setelah bangun dansadar (eling), segeralah mencari danmenemukan pencerahan sinar cahaya Tuhan. Maknanya, setelah engkau sadar,segeralah berbakti, beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Mahakuasa, salahsatunya diwujudkan dalam bentuk melakukan zikir dan bersembahyang, salat limawaktu, sesuai dengan perintah agama.Tandure wissumilir “Tanamannya sudah semburat bersemi”.Biasanya orang Jawa yang agraris itu menanam padi di sawah atau ladang. Kini,tanaman padi itu sudah tampak semburat bersemi. Ibarat suatu tanaman padi yangsudah semburat bersemi tersebut, kebaktian, kesadaran, keimanan, dan ketakwaankita kepada Tuhan Yang Mahakusa sudah mulai tumbuh semburat bersemi. Olehkarena itu, lanjutkan dan tetap terus pelihara cahaya kebaktian, kesadaran,keimanan, dan ketakwaan kita kepada Tuhan yang Mahakuasa itu agar tetap menyalaterus, api iman agar semakin lama semakin bercahaya terang benderang untukmenerangi jalan hidup kita dari pondok dunia hingga sampai ke istana akhirat.Tak ijoroyo-royo, tak sengguh penganten anyar “Tanaman padi tersebut sudah semburat tampak menghijau berseri laksanapengantin baru”. Sebagaimana halnya seorang pengantin baru, tentu tampak indah,senang, bahagia, dan berseri-seri. Seorang yang telah sadar, penuh kebaktiankepada Tuhan yang Mahakuasa, diperkokoh dengan iman yang bulat, serta takwayang berusaha teguh memenuhi semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya,tentu hidupnya akan tampak indah, bahagia, dan berseri-seri seperti pengantinbaru yang senantiasa penuh kasih sayang dapat mengasyikan sekali. Apalagisuasananya masih dalam bulan madu, tentu sangat membahagiakan. Demikian halnyakebaktian, kesadaran, keimanan, dan ketakwaan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa dilandasirasa kasih sayang kepada sesama umat, tentu sangat membahagiakan.Cah angon, cahangon, penekna blimbing kuwi. “Wahai, anak-anakpengembala, tolonglah panjatkan pohon blimbing itu”. Biasanya di ladang atau disawah, selain ditanami padi, juga ditanami pohon-pohonan sebagai peneduh dikala terik panas matahari yang menyengat bumi. Salah satu pohon yang ada didekat pematang sawah atau ladang itu adalah pohon belimbing. Ketika seorangpetani yang tengah berada di sawahnya melihat beberapa gembala, biasanyamenggembalakan sapi, kerbau, atau kambing sebagai binatang piaraan petani, sangpetani tersebut meminta bantuan para gembala itu untuk memanjatkan pohonbelimbing, lalu memetik buahnya. Ada dua jenis belimbing, yaitu belimbing manis(yang enak dan segar rasanya, dapat sebagai pelepas dahaga) dan belimbing wuluh(belimbing sayur yang hijau dan masam rasanya). Buah belimbing manis rupanyakuning keemasan berlingir (seperti lekuk bintang) lima, tetapi permukaannyalicin. Hal ini secara semiotis melambangkan lima watak utama yang harus dimilikimanusia agar dapat menyempurnakan kebaktian, kesadaran, keimanan, danketakwaannya kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Lima watak keutamaan (pancasila)adalah: rila (ridla, rela), narima (qanaah, tawakal, dan senantiasabersyukur), temen (al-shidqu, jujur, menepati janji), sabar (shabr, momot), dan budi luhur (al-akhlaq al-karimah, berbudi pekerti mulia). Sementra itu,belimbing wuluh yang rasanya asam hanya dapat menjadi enak setelah dimasak buatsayur asam. Tentu hal ini juga menyiratkan makna agar kelima watak utamatersebut, meskipun getir dan asam rasanya, tetaplah harus dapat diolahsedemikian rupa sehingga nanti dapat menjadi enak dirasakannya. Jadi, agarsempurna baktimu, sadarmu, imanmu, dan takwamu kepada Tuhan Yang Mahakuasa,harusalah melaksanakan watak utama lima hal di atas.Lunyu-lunyupeneken kanggo masuh dodotira “Biarpun licin, tetappanjatlah, untuk mencuci pakaianmu”. Setelah diguyur hujan, pohon belimbingtersebut begitu licin. Namun, tetaplah panjat dan petiklah buahnya untukmencuci pakaian agar bersih suci. Buah belimbing pada zaman dahulu, sebelumditemukan sabun, dapat digunakan untuk mencuci atau membersihkan pakaian. Kata“dodot” yang arti harfiahnya “pakaian” atau “kain”, sebagai lambang busana dan hatimanusia. Busana atau lambang lahiriah kewadakan manusia dapat dicuci bersihdengan menggunakan air yang bersabunkan belimbing. Akan tetapi, hati atau jiwamanusia agar bersih mencapai kesucian, haruslah dicuci dengan cara revolusijiwa, yaitu mengubah watak atau pekerti, dari angkara murka, malas, dengki,iri, pendendam, tamak, loba, dan aniaya, menjadi watak atau pekerti manusiayang tulus ikhlas (rila legawa), senantiasabersyukur dan tawakal (narima), sabarmenghadapi berbagai cobaan dan tidak pemarah (momot), jujur dan selalu menepati janji (temen), serta kasih sayang kepada sesama umat dengan memirip-miripisifat Tuhan (budi luhur). Hanyadengan kesucian inilah bekal manusia untuk dapat menghadap ke hadirat Tuhan YangMahakuasa di tahta suci, pusat hati sanubari (Kalbhu mukmin Baitullah).Dodotirakumitir bedhah pinggire/dondomana, jlumatana,/kanggo seba mengko sore “Pakaianmu berketai-ketai (sobek kecil-kecil) pada pinggirnya, jahitlah,jerumatlah, agar dapat dipakai menghadap nanti sore”. Secara semiotismenyiratkan makna bahwa pakaian (dodot)selain sebagai perumpamaan hati, juga menjadi lambang kepercayaan (agama)kepada Allah. “Kang tumrap neng tanahJawa/ Agama ageming aji” (Mangkunegara IV) yang oleh Soehadha (2008)diartikan sebagai “Orang Jawa memaknai agama”. Pakaian yang robek pinggirnya,agar pantas dipakainya, hendaklah harus dijahit atau dijerumat supaya utuhkembali. Hal ini mengandung makna bahwa kepercayaan (iman, agama) kita kepadaAllah haruslah tetap utuh (bulat), hendaklah dijaga agar jangan sampai surut,robek, gempil, atau sompel. Sesungguhnya orang yang telah berbakti, sadar,iman, dan takwa kepada Allah dan sudah suci hatinya, bilamana iman dan takwanyatersebut goncang, menipis, dan masih lobang-lobang, sobek kecil-kecil bagainpinggir, berarti orang tersebut belumlah sempurna kesucian melaksanakan agamanya.Sebab, busana atau pakaiannya belum lengkap atau belum utuh untuk dapat dipakainyamenghadap ke hadirat Tuhan Yang Mahakuasa. Kata “mengko sore” sebagai penanda waktu bahwa ajal kematian kita sudahdekat. Oleh karenanya, sungguh pun belum tahu kapan kita dipanggil kembali kehadirat Tuhan, setiap manusia harus sudah siap sedia sewaktu-waktu menerimapanggilan Tuhan.Mumpung gedherembu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar