“ILIR-ILIR” SUNAN KALIDJAGA:
Sumber Pembentukan Pekerti Bangsa
Drs. Puji Santosa, M.Hum.Peneliti Utama Bidang Sastra Pusat
Pengembangandan Pelindungan BadanPengembangan dan Pembinaan
BahasaKementerianPendidikan Nasional
Sunan Kali Jogo
ILIR-ILIR
Ilir-ilir Ilir-ilirtandure wis sumilirtak ijo royo-royotak
sengguh penganten anyar.
Cah angon cah angonpenekna blimbing kuwilunyu-lunyu
penekenkanggo masuh dodotira.
Dodotira dodotirakumitir bedhah pinggiredondomana,
jlumatanakanggo seba mengko sore.
Mumpung gedhe rembulane mumpung jembar kalanganeya
suraka..... surak.... hore....ya suraka..... surak.... hore....
Iir ilir lirilir “Bangun, bangun, bangunlah,
bangun” atau juga dapat diterjemahkan menjadi “Sadar, sadar, sadarlah, sadar”.
Kanjeng SunanKalidjaga mengajak kita agar bangun (sadar) dari kelelapan tidur
panjang,segeralah sadar akan tugas dan kewajiban kita hidup di dunia ini, tidak
hanyatidur saja. Tidur dalam arti hanya mengurus duniawi saja. Setelah bangun
dansadar (eling), segeralah mencari danmenemukan pencerahan sinar cahaya Tuhan.
Maknanya, setelah engkau sadar,segeralah berbakti, beriman, dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Mahakuasa, salahsatunya diwujudkan dalam bentuk melakukan zikir dan
bersembahyang, salat limawaktu, sesuai dengan perintah agama.Tandure wissumilir
“Tanamannya sudah semburat bersemi”.Biasanya orang Jawa yang agraris itu
menanam padi di sawah atau ladang. Kini,tanaman padi itu sudah tampak semburat
bersemi. Ibarat suatu tanaman padi yangsudah semburat bersemi tersebut,
kebaktian, kesadaran, keimanan, dan ketakwaankita kepada Tuhan Yang Mahakusa
sudah mulai tumbuh semburat bersemi. Olehkarena itu, lanjutkan dan tetap terus
pelihara cahaya kebaktian, kesadaran,keimanan, dan ketakwaan kita kepada Tuhan
yang Mahakuasa itu agar tetap menyalaterus, api iman agar semakin lama semakin
bercahaya terang benderang untukmenerangi jalan hidup kita dari pondok dunia
hingga sampai ke istana akhirat.Tak ijoroyo-royo, tak sengguh penganten anyar
“Tanaman padi tersebut sudah semburat tampak menghijau berseri laksanapengantin
baru”. Sebagaimana halnya seorang pengantin baru, tentu tampak indah,senang,
bahagia, dan berseri-seri. Seorang yang telah sadar, penuh kebaktiankepada
Tuhan yang Mahakuasa, diperkokoh dengan iman yang bulat, serta takwayang
berusaha teguh memenuhi semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya,tentu
hidupnya akan tampak indah, bahagia, dan berseri-seri seperti pengantinbaru
yang senantiasa penuh kasih sayang dapat mengasyikan sekali. Apalagisuasananya
masih dalam bulan madu, tentu sangat membahagiakan. Demikian halnyakebaktian,
kesadaran, keimanan, dan ketakwaan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa dilandasirasa
kasih sayang kepada sesama umat, tentu sangat membahagiakan.Cah angon,
cahangon, penekna blimbing kuwi. “Wahai, anak-anakpengembala, tolonglah
panjatkan pohon blimbing itu”. Biasanya di ladang atau disawah, selain ditanami
padi, juga ditanami pohon-pohonan sebagai peneduh dikala terik panas matahari
yang menyengat bumi. Salah satu pohon yang ada didekat pematang sawah atau
ladang itu adalah pohon belimbing. Ketika seorangpetani yang tengah berada di
sawahnya melihat beberapa gembala, biasanyamenggembalakan sapi, kerbau, atau
kambing sebagai binatang piaraan petani, sangpetani tersebut meminta bantuan
para gembala itu untuk memanjatkan pohonbelimbing, lalu memetik buahnya. Ada
dua jenis belimbing, yaitu belimbing manis(yang enak dan segar rasanya, dapat
sebagai pelepas dahaga) dan belimbing wuluh(belimbing sayur yang hijau dan
masam rasanya). Buah belimbing manis rupanyakuning keemasan berlingir (seperti
lekuk bintang) lima, tetapi permukaannyalicin. Hal ini secara semiotis
melambangkan lima watak utama yang harus dimilikimanusia agar dapat
menyempurnakan kebaktian, kesadaran, keimanan, danketakwaannya kepada Tuhan
Yang Mahakuasa. Lima watak keutamaan (pancasila)adalah: rila (ridla, rela),
narima (qanaah, tawakal, dan senantiasabersyukur), temen (al-shidqu, jujur,
menepati janji), sabar (shabr, momot), dan budi luhur (al-akhlaq al-karimah,
berbudi pekerti mulia). Sementra itu,belimbing wuluh yang rasanya asam hanya
dapat menjadi enak setelah dimasak buatsayur asam. Tentu hal ini juga
menyiratkan makna agar kelima watak utamatersebut, meskipun getir dan asam
rasanya, tetaplah harus dapat diolahsedemikian rupa sehingga nanti dapat
menjadi enak dirasakannya. Jadi, agarsempurna baktimu, sadarmu, imanmu, dan
takwamu kepada Tuhan Yang Mahakuasa,harusalah melaksanakan watak utama lima hal
di atas.Lunyu-lunyupeneken kanggo masuh dodotira “Biarpun licin,
tetappanjatlah, untuk mencuci pakaianmu”. Setelah diguyur hujan, pohon
belimbingtersebut begitu licin. Namun, tetaplah panjat dan petiklah buahnya
untukmencuci pakaian agar bersih suci. Buah belimbing pada zaman dahulu,
sebelumditemukan sabun, dapat digunakan untuk mencuci atau membersihkan
pakaian. Kata“dodot” yang arti harfiahnya “pakaian” atau “kain”, sebagai
lambang busana dan hatimanusia. Busana atau lambang lahiriah kewadakan manusia
dapat dicuci bersihdengan menggunakan air yang bersabunkan belimbing. Akan
tetapi, hati atau jiwamanusia agar bersih mencapai kesucian, haruslah dicuci
dengan cara revolusijiwa, yaitu mengubah watak atau pekerti, dari angkara murka,
malas, dengki,iri, pendendam, tamak, loba, dan aniaya, menjadi watak atau
pekerti manusiayang tulus ikhlas (rila legawa), senantiasabersyukur dan tawakal
(narima), sabarmenghadapi berbagai cobaan dan tidak pemarah (momot), jujur dan
selalu menepati janji (temen), serta kasih sayang kepada sesama umat dengan
memirip-miripisifat Tuhan (budi luhur). Hanyadengan kesucian inilah bekal
manusia untuk dapat menghadap ke hadirat Tuhan YangMahakuasa di tahta suci,
pusat hati sanubari (Kalbhu mukmin Baitullah).Dodotirakumitir bedhah
pinggire/dondomana, jlumatana,/kanggo seba mengko sore “Pakaianmu
berketai-ketai (sobek kecil-kecil) pada pinggirnya, jahitlah,jerumatlah, agar
dapat dipakai menghadap nanti sore”. Secara semiotismenyiratkan makna bahwa
pakaian (dodot)selain sebagai perumpamaan hati, juga menjadi lambang
kepercayaan (agama)kepada Allah. “Kang tumrap neng tanahJawa/ Agama ageming
aji” (Mangkunegara IV) yang oleh Soehadha (2008)diartikan sebagai “Orang Jawa
memaknai agama”. Pakaian yang robek pinggirnya,agar pantas dipakainya,
hendaklah harus dijahit atau dijerumat supaya utuhkembali. Hal ini mengandung
makna bahwa kepercayaan (iman, agama) kita kepadaAllah haruslah tetap utuh
(bulat), hendaklah dijaga agar jangan sampai surut,robek, gempil, atau sompel.
Sesungguhnya orang yang telah berbakti, sadar,iman, dan takwa kepada Allah dan
sudah suci hatinya, bilamana iman dan takwanyatersebut goncang, menipis, dan
masih lobang-lobang, sobek kecil-kecil bagainpinggir, berarti orang tersebut
belumlah sempurna kesucian melaksanakan agamanya.Sebab, busana atau pakaiannya
belum lengkap atau belum utuh untuk dapat dipakainyamenghadap ke hadirat Tuhan
Yang Mahakuasa. Kata “mengko sore” sebagai penanda waktu bahwa ajal kematian
kita sudahdekat. Oleh karenanya, sungguh pun belum tahu kapan kita dipanggil
kembali kehadirat Tuhan, setiap manusia harus sudah siap sedia sewaktu-waktu
menerimapanggilan Tuhan.Mumpung gedherembu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar